terbaik terburuk

Kadang, nasihat terbaik justru diberikan oleh orang yang tidak bisa menjalankannya.

Dan kadang, hinaan terburuk justru diucapkan oleh orang yang melakukannya.

Pernah mendengar tentang seorang ibu yang menasihati panjang lebar untuk tidak memarahi anak, lalu mendengar dia memaki-maki anaknya?

Atau, pernah mendengar tentang seseorang yang mengatakan bahwa kita adalah orang yang buruk, lalu melihat dia melakukan hal yang sama?

Saya pernah.

Karena itulah, saya belajar untuk tidak melihat siapa yang mengatakan, tapi mendengar apa yang dikatakan.

Karena mungkin, bisa jadi, mereka benar :-)

Yuk, mari bersabar… #notetoself

olahraga mata

semalam, saya menyaksikan tayangan moto gp karena beberapa teman memberikan live report di grup whatsapp. padahal, sudah sekitar delapan tahun saya tidak menonton perlombaannya, hahahaha…

berdasarkan live report para ibu tersebut, saya bisa melihat bahwa mereka menonton dengan ‘hati’. mereka ingin idolanya menang, dan ada yang berharap rival jagoannya jatuh di lintasan balap. sounds like me a couple years ago, eh? :D

saya teringat akan masa lalu. acara olahraga pertama yang saya tonton adalah pertandingan tenis. kedua orang tua saya penggila olahraga tersebut. saya meyakini, kalau mereka suka tenis, so would their daughter.

ternyata tidak.

lalu saya mencoba menonton pertandingan bulu tangkis. tidak terlalu antusias.
pertandingan tinju. wow, langsung ganti channel. sungguh olahraga kejam, menyakiti orang untuk mendapatkan penghargaan.
lalu sepakbola. hmmm, hanya tertarik memperhatikan pemain yang ganteng *uhuk* dan agar punya bahan obrolan dengan teman-teman.
balapan motor. kedua adik saya penggila balapan. rossi, yeah! beberapa tahun saya menonton bersama mereka, hingga akhirnya saya bosan.
formula 1. sempat menikmatinya, gabungan antara kecepatan dan taktik pit stop. team order? tidak seru. beberapa tahun kemudian, saya berhenti menonton.

kembali ke sepakbola. suami menyukainya, dan saya pernah menemaninya menonton. seru juga, karena kali ini saya mulai memahami serunya pertandingan tersebut. tapi tetap saja, saya tidak rutin menonton.

saya pernah berpikir, masa sih tidak ada acara olahraga yang saya nikmati? dari satu olahraga ke olahraga lainnya, saya hanya menonton. ya, hanya menonton, tidak sampai memiliki idola, ingin siapa yang menang, mengikuti peringkat, dan sebagainya.

hingga pagi ini saya terbangun dengan sebuah pencerahan *halah*, mungkin saya bukan “wanita olahraga”. it’s not my world, n it’s okay.

mungkin ada juga orang lain di dunia ini yang tidak begitu bisa menikmati acara olahraga. dan itu tidak masalah. saya hanya perlu menonton acara yang saya suka, seperti komedi situasi, pemecahan kasus kriminal, lomba memasak, dan america’s next top model, hahahahaha…

ah, ternyata, saya hanya suka olahraga mata di depan televisi :p

banyak jalan menuju rumah

cara.

mungkin itulah yang tidak kita pikirkan.

seorang teman bertanya, “kok kayanya dia ga sedih sih ibunya meninggal? bapakku meninggal lebih dulu aja, aku masih ngerasa kehilangan sampai sekarang.”

beberapa waktu kemudian, ada teman lain meradang, “kenapa dia hapus semua tag foto yang sama aku? apa dia ga mau ngakuin pernah pacaran sama aku?”

ya, cara kita bukanlah satu-satunya cara.

kita pasti sedih ketika orang tua meninggal, tapi apa kita harus selalu meratap hingga bertahun-tahun?

tidak. ada golongan orang yang memilih untuk menceritakan hal-hal lucu atau menyenangkan bersama mereka saat masih hidup. ada yang memilih untuk menyangkal kebenaran dan bersikap seolah-olah mereka masih hidup. ada yang memilih memajang foto orang tua dimana-mana dan mendoakan mereka setiap melihatnya. dan entah bagaimana lagi, pasti ada cara lain bagi seorang anak untuk berduka.

kita pasti sedih kehilangan orang yang dikasihi. tapi apakah melihat foto kenangan saat bersama akan mempermudah kita untuk move on?

belum tentu. ada orang yang memilih untuk membakar (atau di era digital ini, menghapus lebih banyak dilakukan) semua hal yang berbau kenangan, seperti foto, chat history, surat cinta, juga semua pemberian sang “mantan”. ada yang berusaha membiasakan diri dengan tetap mengingat semua kenangan. ada yang berusaha mengubah kisah untuk menenangkan hati. ada yang memilih datang ke dukun dan menyantet agar sang “mantan” tidak bertemu dengan jodohnya.

nah lho…

kita mungkin punya tujuan yang sama dengan orang lain, tapi kita bisa memilih jalan yang berbeda untuk menuju kesana.

carilah cara yang paling tepat untuk dirimu sendiri, tanpa menilai cara yang dilakukan orang lain. cheeeeers! :wink:

penerbangan bersama masa lalu

“kalau kamu ketemu sama dia gimana ya?”

suatu ketika, suami menanyakannya. bagaimana reaksi saya jika tiba-tiba bertemu dengan seseorang dari masa lalu saya? ga usah sebut nama ye, hihihihi…

saat itu, saya tidak bisa menjawab, karena… saya belum bisa memaafkannya. apakah saya pendendam? mungkin begitu. sekian tahun berlalu dan saya masih merasa sakit hati seakan baru saja mengalaminya.

lalu saya teringat satu kisah yang pernah diceritakan oleh suami. satu kisah kebetulan yang sangat luar biasa tidak terduga. dia bertemu dengan seseorang dari masa lalunya. iya, cewek lah, bukan cowok.

kenapa saya bilang itu kebetulan yang sangat luar biasa tidak terduga?

karena saat mereka saling mengenal, menjalin hubungan, mengakhiri hubungan, hingga memiliki keluarga masing-masing, mereka tidak pernah tinggal di kota yang sama.

a long-distance-friendship, a long-distance-relationship, n a long-distance-memory, hahaha…

enam tahun kemudian, pada suatu hari, dua manusia yang tinggal di pulau berbeda, terpisah entah ratusan atau ribuan mil itu (ga bisa ngitung, hiks..), saling bertatap muka di antara ratusan manusia yang akan terbang dalam burung besi yang sama. arah yang sama, waktu yang sama. nomor seat yang berbeda, tentunya.

bisa dibayangkan apa yang ada dalam benak masing-masing saat pesawat mulai lepas landas. pasti ada sekelebat kenangan yang muncul, ihiy ihiy… saat turun dari pesawat, mereka bercengkerama seperti dua teman lama yang bertemu. apa kabar suami, apa kabar istri, apa kabar anak, apa kabar pekerjaan, dan sebagainya.

persamaan kami adalah: kami melalui perpisahan yang menyakitkan. perbedaannya: entah bagaimana suami bisa memaafkan seseorang yang menyakitinya.

jujur saja, saya ingin memaafkan sejak dulu, tapi adaaa saja godaan untuk tidak melakukannya. gile bo’, ga ada enak-enaknya nyeret sekarung sakit hati selama bertahun-tahun… tapi mo dibuang juga karungnya nyangkut terus.

hingga beberapa minggu yang lalu, saya tidak sengaja mendengar saat kakak ipar berkata,

“nggak pa-pa, nanti insyaAllah balasannya untuk anakku.”

tidak masalah seperti apa kita disakiti, tidak perlu membalasnya. insyaAllah anak kita kelak yang akan mendapatkan semua balasan atas kesabaran kita. insyaAllah anak kita akan dimudahkan jalannya, dan tidak akan disakiti seperti kita.

dan ternyata, begitu mudahnya.

anak.

satu kata tentangnya mampu menguapkan dendam saya dalam hitungan detik. what a big big big superpower in her little body!

membayangkan dia tidak akan mengalami hal-hal buruk yang pernah saya alami, that’s what i call… priceless!

tiap saya mengalami hal yang menyakitkan hati, saya akan langsung berdoa, semoga kelak anak cucu saya akan mengalami hal yang lebih baik. hey, it works!

saat ini, jika suami atau siapapun menanyakan hal itu kembali, saya akan menjawab, “aku sudah siap melakukan penerbangan bersama masa lalu.” hahahaha…