topik mengenai ibu rumah tangga versus wanita karir akan selalu menjadi perdebatan yang panjang. dan perdebatan di dunia maya kembali tersulut oleh pertanyaan (yang sebenarnya merupakan pernyataan) seorang (yang disebut) ustadz mengenai seorang wanita yang lebih pantas disebut karyawan daripada ibu karena menghabiskan waktu lebih banyak di kantor daripada di rumah.

saya tidak bermaksud memperpanjang perdebatan ini. karena bagaimanapun, saya tidak berhak mengomentari seorang ibu, meskipun saya juga seorang ibu. saya hanya tergelitik membaca salah satu respon sang ustadz ketika kolom mentionnya banjir dengan kalimat protes.

mengenai sebuah pilihan.

secara tidak langsung, ustadz tersebut mengatakan bahwa ada golongan ibu yang punya pilihan untuk bekerja dan ada yang tidak punya pilihan.

menurut saya, semua orang punya pilihan. tapi, kadang pilihan itu tidak terpikirkan.

ketika saya berpamitan kepada rekan-rekan kantor saat resign, ada yang mengatakan, “aku nggak bisa kalau cuma di rumah.”

nggak bisa atau nggak mau?

masalah yang dihadapi seorang wanita yang memilih menjadi ibu rumah tangga adalah: dia dianggap tidak bekerja dan tidak punya penghasilan.

kenyataannya? ada yang punya.

oh, tidak, jangan kembali lagi ke dunia em-el-em. ibu rumah tangga punya banyak pilihan selain menjadi seorang anggota multilevel marketing. meski mungkin itu mayoritas yang mereka geluti, hingga bertebaran iklan-iklan di dunia maya.

jadi, ketika dibilang ibu tidak punya pilihan, sehingga harus bekerja, saya katakan ada pilihannya. tinggal di rumah dan bekerja. menghasilkan uang.

apa contohnya?

menulis. bisa dengan mengirimkan tulisan ke media massa, menjadi kontributor berita, atau menulis buku sendiri. tidak dibutuhkan skill. hanya dibutuhkan kemampuan membaca dan mengetik, lalu kenekatan mengirimkan hasil ketikan tersebut.

buka praktek. bagi yang punya skill, bisa kok buka praktek di rumah sehingga anak bisa selalu didampingi. bukan cuma dokter atau psikolog lho. bisa juga buka salon, usaha jahit, jasa perias, atau jasa laundry. banyak kursus yang disediakan kok.

usaha kuliner. bisa juga buka warung, kafe, atau menerima pesanan membuat kue. kursus dulu bisa, kalau mau usaha agak gedean bisa pinjam bank. ribet? namanya juga hidup :-D

apa lagi ya?

mengajar. jika punya ilmu atau pengetahuan seperti bahasa inggris, matematika, atau menari bahkan menyanyi, bisa menjadikan guru sebagai mata pencaharian. bisa mengajar di sekolah, di rumah, atau di sanggar. banyak model sekolah saat ini, dan les tambahan juga banyak diminati.

oh iya, online shop. dibutuhkan modal berupa barang, koneksi internet, dan pulsa telepon untuk melayani pembeli. banyak paket internet murah kan sekarang? telepon genggam dan biaya sms juga tidak mahal. mau jual apapun, bisa. mulai dari kain batik, makanan bayi, mainan anak, hingga barang elektronik, silakan. jasa pengiriman sangat banyak sekarang.

itu lah kira-kira. saya tidak memprotes siapapun yang memilih bekerja di kantor kok. itu pilihan. saya hanya tergelitik menuliskan sesuatu mengenai pernyataan “tidak punya pilihan” dari sang ustadz tersebut :-)